Sabtu, 28 November 2015

Hingga Menguap Bersama Hujan

Kemarau panjang yang sudah terlalu lama menerpa kini berganti dengan mendung berujung hujan deras tanpa gerimis mendahului.
Orang-orang yang terlalu haus akan bau tanah yang basah mulai bersorak kegirangan.
Tapi ini semua bukan tentang itu. Bukan tentang tanah yang basah karena hujan.
Ini tentang aku, aku yang tak begitu suka datangnya hujan.
Hujan terlalu banyak membawa bayangan, bayangan tentangmu.
Hujan hanya memberi kesedihan bagiku di setiap rintiknya yang jatuh ke bumi.
Mengingatkanku tentang dirimu yang hanya menghilang begitu saja.
Memang aku selalu melihatmu, bahkan sesekali menatapmu dari kejauhan. Tapi hanya sebatas itu kemampuanku.
Aku tak sanggup, tak bisa memaksa diri untuk berani mendekatimu lagi.
Aku rasa saat ini aku hanya cukup menyayangimu dalam diamku dan dalam kesendirianku.
Terkadang perasaanku sendiri seolah menyiksaku. Dia, si perasaan ini mencoba membunuh semangatku perlahan. Mencoba memaksaku mengatakan bahwa kau mau mencintaiku. Tapi ini hanya perasaan sendiri, bukan aku dan kamu.


Sementara biarlah seperti ini hingga ia bosan ada di dalam hati dan pikiranku. 
Menguap bersama air hujan terkena panas cerahnya matahari siang di suatu waktu nanti.

Di suatu siang yang merindu. . 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar